Minggu, 14 Agustus 2016

Gagal Budidaya Cabai, Bagaimana Solusinya?



Ancaman para petani cabai (atau cabe) yang paling sering terjadi adalah layu fusarium. Ancaman fusarium hampir menyeluruh terjadi pada para petani cabai. Paling umum menyerang lahan terbuka, dan tidak jarang masuk ke lahan greenhouse.
Serangan layu fusarium memang menakutkan. Potensinya adalah gagal panen, dan petani hanya dapat mengelus dada “sabar.. sabar.. sabar Ya Allah”. Begitulah sulitnya bertani cabai. Meskipun fungisida dilakukan berkali-kali, semakin bertambah banyak biaya perawatan dan bertambah banyak lagi, semua belum menjamin fungisida berhasil. Layu Fusarium akibat jamur terus saja menyebar hingga keseluruhan tanaman cabai layu dan mati.

Sebenarnya Apa itu Layu Fusarium?
Untuk memudahkan pemahaman kita semua tentang penyakit cabai yang mematikan ini, mari kita simak poin-poin tentang penyakit Layu Fusarium.

  • Disebabkan oleh jamur/cendawan patogen, gejalanya hampir mirip dengan layu Verticillium.
  • Menyerang tanaman cabai, tomat, mentimun, melon, paprika, terong, kentang, kacang-kacangan, cucurbits, asparagus, ubi jalar, tembakau, pisang, bunga hias, tumbuhan herba, dan banyak lagi
  • Pada tanaman cabai, jenis penyerangnya adalah Fusarium oxysporum atau disingkat F. oxysporum. Spesiesnya dibagi lagi berdasarkan tanaman inang yang bersangkutan, yang dikenal dengan forma specialis
  • Patogen fusarium umumnya berawal dari tanah, masuk dan menyerang tanaman cabai  dari akar, bergerak naik ke batang dan jaringan daun.
  • Patogen fusarium menutup pembuluh tanaman. Akibatnya nutrisi macet, tanaman cabai jadi kelaparan.
  • Efeknya tanaman menjadi dehidrasi, kelaparan, layu, tidak dapat mengalirkan air ke seluruh tubuh tanaman.
  • Tanaman layu, daun menguning, nekrosis, rontok, daun dan buah berguguran, batang jadi coklat, ranting lemas, sekarat dan mati.
  •  Pada manusia, kita bisa menyamakan dengan penyakit stroke. Jika pada manusia disebabkan oleh kolesterol jahat, maka pada tanaman cabai disebabkan oleh Patogen fusarium.
  • Tanda atau gejala ini biasanya dapat dilihat ketika tanaman cabai terlihat segar pada pagi atau sore hari, namun tiba-tiba layu pada siang terik. Nampak segar lagi pada sore saat disiram. Hal ini terjadi karena adanya gangguan pada pembuluh tanaman.
  • Cendawan fusarium sangat mudah menyebar melalui alat berkebun, tangan dan pakaian petani, serangga, air, bahkan udara.
  • Cendawan fusarium mampu bartahan bertahun-tahun pada tanah.
  • Para petani mensiasati dengan praktek rotasi tanaman. Ini hanya sebatas meminimalisir tingkat serangan.
Jika cabai telah terserang Cendawan fusarium di atas, maka secara umum petani akan kehilangan harapan, pupus dan putus asa. Kondisi demikian bukan semata persoalan yang dialami petani Indonesia, bahkan pertanian di Negara maju juga mengeluhkan persoalan yang sama.

Solusi Mengendalikan Cabai dari Cendawan fusarium
  • Menjaga kebersihan
  • Pengolahan lahan yang baik
  • Sanitasi yang baik
  • Penggunaan benih yang tahan terhadap fusarium
  • Penggunaan mulsa plastik
  • Memusnahkan tanaman yang terinfeksi
  • Aplikasi terichoderma
  • Bisa mencoba fungisida berbahan aktif benomil atau metalaksil.
  • Untuk meminimalisir tertular, hindari menanam cabai di sekitar pekarangan kebun ketela, tanaman buah melon, semangka, atau jenis tanaman lain yang terkena fusarium.
Hmm.. Memang tidak mudah ya merawat tanaman cabai.
Jangan pupus harapan. Mari melihat mereka yang mengalami situasi sebaliknya. Mari melihat kisah dari petani sukses budidaya cabai dan mendapatkan hasil panen yang melimpah. Tanaman, batang, daun, dan buah cabai tumbuh subur, segar dan berlimpah.

Bercermin dari Petani Cabai yang Telah Berhasil
Ini adalah fakta tentang kisah sukses Fauzan mulai menanam cabai di Desa Sukajaya, Sukabumi, Jawa Barat sejak tahun 2009. Fauzan telah mempelajari berbagai teknologi Budidaya cabai. Pria asal lampung lulusan Akutansi STIE Malang ini telah melahap ratusan artikel, baik dari hasil penelitian maupun googling.
Lalu apa solusi yang ditemukannya, hingga Fauzan mampu meningkatkan jumlah panen tanaman cabai hingga 5 kali lipat dari petani lainnya? Bahkan fauzan juga dapat menikmati masa panen lebih panjang.

Bertanam Cabai pada Greenhouse High Population
Inilah yang dilakukan pemilik nama lengkap Yussa Fauzan:  Bertanam Cabai pada Greenhouse High Population. Demi sukses bertani cabai, dengan melihat potensi cabai yang kian menggiurkan, ia nekat menggelontorkan modal 300 juta untuk membangun 10 unit Greenhouse.

Seperti kami kutip dari Jitunews, modal tersebut digunakan untuk membangun 10 unit green house di atas lahan seluas 1 hektar, membeli mulsa plastik, 100 pack benih cabai, enzim Solbi, pupuk kandang, NPK, alat pertanian dan biaya tenaga kerja.

Lahan seluas tersebut diberikan naungan green house sederhana dari kerangka bambu dan ditutup dengan plastik ultraviolet. Ia ingin suhu di dalam greenhouse benar-benar dapat terukur dan stabil. Seperti yang diungkapkan Fauzan, ia ingin keseluruhan greenhouse steril dari pengaruh luar, termasuk dari pengaruh curah hujan dan serangan berbagai penyakit.

Sebagaimana bertani cabai pada umumnya, Fauzan menanam cabai di atas gundukan tanah atau bisa kita sebut bedengan. Di atas bedengan ia menggunakan mulsa plastik hitam perak. Diberikan lubang yang sesuai sebagai jarak tanam cabai.

Yang berbeda dari para petani pada umumnya, Fauzan menama cabai lebih rapat, yakni jarak lubang 10-20 cm. Bandingkan dengan kebanyakan petani yang memberik jarak lubang 60 cm. Dalam 1 unit greenhouse seluas 1.000m2 dibuat hingga 35-37 bedengan, diisi 150 ribu tanaman cabai: 40 persen cabai merah dan 60 persen cabai keriting. Dari sinilah kuantitas panen cabai Fauzan jauh lebih banyak dibandingkan petani cabai pada umumnya.

Untuk menopang makanan yang dibutuhkan cabai, Fauzan menambahkan enzim tanaman. Fauzan menuturkan hal tersebut sangat efektif untuk mensuplai kebutuhan tabnaman cabai yang rapat. Bahkan jika panen cabai pada umumnya petani adalah 5 bulan, Fauzan memaksimalkan waktu panen lebih panjang hingga 11 bulan, dan satu bulan untuk persiapan penanaman pada periode berikutnya.
Kunci dari budidaya cabai yang dilakukan Fauzan, sebagaimana wawancara kami kutip dari Jitunews, adalah kondisi greenhouse yang jauh lebih aman dari berbagai serangan penyakit. Selain itu didukung dengan enzim dan nutrisi makanan yang harus sesuai dengan jumlah tanaman. Semakin rapat tanaman, maka kebutuhan nutrisinya juga semakin tinggi.

Tidak mengherankan, jika kemudian omset pertanian Fauzan menembus 100 juta dalam satu bulan. Belum lagi jika kondisi harga cabe rawit sedang melambung tinggi (saat penulisan artikel ini, yakni Agustus 2016, harga cabai sudah menembus Rp.50.000/kg)
Sebuah kondisi yang kontradiktif bukan, dimana banyak petani mengeluh dan gagal panen, hingga hanya mampu mengungkapkan kata sabar, dan berserah diri pada takdir.

Barangkali kita dapat memulai dari proses dengan skala yang lebih kecil. Rahasianya adalah:
  • Banyak belajar, banyak membaca dan memahami bagaimana metode yang tepat untuk budidaya cabai. Paksakan diri Anda untuk menjadi petani dengan sikap terbuka dan menerima masukan dari perkembangan teknologi pertanian.
  • Pahami metode, manfaat, kekurangan dan kelebihan penggunaan greenhose. Lakukan berbagai pengamatan dan belajar bagaimana greenhouse dijalankan, hingga berani mencoba untuk menerapkan rahasia sebagaimana yang dilakukan oleh Yussa Fauzan.
  • Penerapan Penggunaan mulsa plastik pada pertanian. Mulailah dengan seksama mempelajari secara detail metode penggunaan mulsa plastik.
Artikel ini barangkali belum memberikan kejelasan secara teknis bagaimana cara budidaya cabai rawit yang benar dan menjamin sukses. Tapi kami berharap cerita di atas kembali memberikan semangat kepada Anda, ada solusi untuk sukses bertani cabai.



4 komentar: